WELCOME TO MY BLOG

Kamis, 14 Oktober 2010


Selain pantai, Bangka juga dikenal dengan keragaman budayanya. Dari budaya lokal hingga budaya Importm yang dibawa para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting untuk mengembangkan pariwisata .
.
Pulau Bangka yang dikelilingi lautan, laksana surga-surga bagi para nelayan. Itulah secuil cermin tentang kebudayaan nelayan di pulau yang dulu dikenal sebagai penghasil timah.
Dalam perkembangannya, latar belakang masyarakat Bangka yang sebagian besar nelayan itu, ternyata turut mempengaruhi pertumbuhan kebudayaan lokal. Meski saat ini pola hidup masyarakat Bangka telah mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Paling tidak saat ini ada dua event budaya besar yang berhubungan dengan nelayan, yakni, upacara rebo kasan dan buang jong.
Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi, sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa)
Tapi diantara banyak ritual budaya di Bangka, upacara sepintu sedulang boleh jadi memiliki makna yang khusus. Inilah ritual yang menggambarkan persatuan masyarakat Bangka.
               Sepintu Sedulang
Kata sepintu sedulang adalah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu atau siapa saja di balai adat.
Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.
Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar.Dilakukan di setiap daerah di Bangka Belitung.

Rebo Kasan
adalah  upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, agar mereka terhindar dari bencana sebelum ke laut mencari ikan. Biasanya di lakukan di bulan februari. Dilaksanakan di pantai Air anyir, baturusa, kec.Merawang, kab. Bangka.


Perang Ketupat




Perang Ketupat adalah upacara yang diadakan setiap bulan Sya’ban menyambut Ramadhan. Diadakan  di Tempilang, Kec.Merawang, kab. Bangka.

Selain itu masih ada kebudayaan lain di Bangka Belitung antara lain :    

1.      Buang Joang adalah upacara tolak bala untuk keamanan desa, mirip upacara Rebo Kesan;
2.      Ceriak Nerang adalah upacara yang dilakukan setelah panen padi sebagai puji syukur pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa;
3.      Mandi Belimau adalah dilaksanakan seminggu sebelum awal Ramadhan di pinggir Sungai Limbung, Kab.bangka
4.      Lesong Panjang adalah upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen.
5.      Adat Sijuk adalah upacara khusus pada hari besar agama;
6.      Tari Sambut adalah tarian khas di Bangka Belitung, dilakukan saat masyarakat menyambut tamu – tamu istimewa, dan
7.      Nirak Nanggok adalah upacara adat untuk menunjukan rasa syukur atas kebaikan, dilakukan di Desa Membalong, Belitung.
Sekian dan terima kasih.
Nama : Rezki Oktariyanto
Kelas : 1IA04
NPM : 55410832



 



0 komentar: